Senin, 05 Desember 2011

MENDIDIK: GAMPANG- GAMPANG SUSAH

Oleh: Ag. Budi Susanto, S.Pd.

MENDIDIK pada dasarnya tidak hanya sekedar mengkomunikasikan fakta, gagasan dan pengetahuan. Mendidik adalah juga suatu proses untuk membantu menumbuhkembangkan pribadi anak didik.

Namun,untuk mewujudkan seorang pendidik yang mampu melakukan pekerjaan besar itu diperlukan suatu proses yang cukup lama. Sebab mereka harus mengeyam pendidikan khusus, yang mendidik mereka menjadi seorang pendidik yang efektif. Hal ini misalnya dapat ditempuh dengan sekolah kependidikan.

Kenyataan yang kita jumpai sekarang ini sungguh berlainan. Beberapa kasus dalam penerimaan guru, baik sekolah swasta maupun negeri menjadi salah satu bukti. Kebanyakan mereka menerima guru dengan status bukan lulusan kependidikan.

Memang kebanyakan dari mereka sudah menempuh Akta IV sebagai syarat menjadi seorang guru. Sebuah pertanyaan bisa kita ajukan untuk mengkritisi hal tersebut, Apakah mereka betul-betul siap menjadi seorang pendidik yang tidak hanya bertugas mengajar? Pertanyaan ini terlontar juga dengan dasar latar belakang mereka sejak awal dalam perkuliahan tidakdipersiapkan menjadi pendidik, atau dari awal mereka tidak mempunyai motivasi menjadi seorang pendidik.

Sebagian mereka masuk dalam dunia pendidikan dengan alasan yang kurang enak didengar, mentok mencari pekerjaan akhirnya lari masuk ke dunia pendidikan. Akhir-akhir ini munculnya sertifikasi guru, nampaknya sebagai salah satu yang memotivasi mereka juga lari ke dunia pendidikan. Namun juga tentunya pasti ada yang memang terpanggil dalam dunia pendidikan tanpa alasan tersebut.

Seorang guru yang juga pendidik pada dasarnya tidak hanya bisa dipersiapkan dalam waktu singkat. Misalnya mereka mengambil program AKTA IV dalam waktu satu tahun atau dua semester. Apakah cukup dengan waktu dua semester mempersiapkan menjadi guru yang sekaligus pendidik juga? Kalau memang begitu sungguh luar biasa proses yang secepat itu. Proses yang singkat tersebut tentunya hanya mampu mendapatkan sekedar teori tentang kependidikan saja.

Terlepas dari uraian di atas, kita tentu tahu bahwa langkah awal yang dapat dilakukan untuk membantu menumbuhkembangkan anak didik adalah dengan mengenal pribadi masing-masing anak didik. Memang hal ini terkesan sepele dan mudah untuk dilakukan. Namun harus kita ingat, dari sinilah awal pendekatan pendidik terhadap anak didik dalam rangka supaya proses pendidikan dapat berlangsung dengan baik.

Karena itu, pendidik harus melakukan kontak dengan anak didik, baik secara formal maupun informal. Pendekatan semacam ini tentu saja membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga dedikasi dan totalitas pendidik cukup tertantang.

Dengan mengenal pribadi anak didik akan tercipta kondisi pengajaran yang kondusif. Kondisi ini mendorong anak didik semakin dekat dengan kita selaku pendidik. Mereka tidak lagi menganggap kita sebagai guru yang menakutkan, guru yang menyulitkan, dan sebutan lain yang kurang baik di mata anak didik.

Namun untuk menumbuhkembangkan anak didik dibutuhkan juga penanaman sikap. Salah satu sikap itu adalah kejujuran. Sikap kejujuran merupakan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur. Ketika kita dapat menerapkan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur, maka kita dapat menerapkan mekanisme ”siap dan mau menerima sanksi” atas tindakan indispliner mereka.

Sebagai pendidik, kita memang harus tegas memberikan sanksi kepada anak didik yang melanggar. Ketika seorang anak didik menyontek saat ujian, tentu saja kita harus tegas dan jelas dalam memberikan sanksi. Hal ini kita lakukan agar mereka jera dan mampu meminimalisir yang lain agar tidak menyontek.

Kepedulian sosial juga harus kita tanamkan dalam diri anak didik agar mereka mempunyai kepedulian terhadap lingkungan di sekitarnya. Penanaman kepedulian sosial ini dapat dilakukan dengan live in . Yakni anak didik diajak untuk hidup bermasyarakat yang konkret, melihat dan merasakan sendiri dinamika hidup di masyarakat.

Harapanya agar mereka memiliki perhatian kepada kaum miskin dan marginal. Rasa kepedulian sosial yang sudah tertanam dalam dirinya dapat digunakan sebagai penunjang proses belajar mengajar.

Mengenai pribadi masing-masing anak didik, penanaman sikap dan menumbuhkan kepedulian sosial anak didik sesungguhnya merupakan upaya kita untuk menjadi pendidik yang efektif. Keefektifan ini akan membantu anak didik tumbuh dan berkembang kepribadiaannya. Akhirnya, kepribadian merekapun semakin matang.

*) Guru SMA Pangudi Luhur Sedayu, Bantul, Yogyakarta

&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&

BAHASA MEDIA MASSA DAN KONSEKUENSI TERHADAP EYD

Oleh: Ag. Budi Susanto, S.Pd.

Pemakaian bahasa yang cermat dalam penulisan bukan semata-mata demi citarasa kebahasaan. Bahasa yang ditulis untuk mengungkapkan sesuatu pada dasarnya merupakan suatu rekontruksi secara tertulis. Hanya lewat bahasa yang cermatlah rekontruksi itu dapat mengantar pembaca untuk membayangkan apa yang sesungguhnya terjadi. Penulisan kata, kalimat dan alinea tanpa kecermatan, kemungkinan besar berpengaruh pada pemahaman yang diperoleh pembaca dan kenyataan jauh berbeda.

Ketidakcermatan dalam pemakaian bahasa mengakibatkan suatu tindakan penyelewengan terhadap kaidah ketatabahasaan atau pedoman EYD. Hal ini kalau dibiarkan akan merusak kaidah Bahasa Indonesia. Penyelewengan kebahasaan dalam bahasa media massa nampak jelas pada penerapan ejaan.

Masalah ejaan memang bukan tolok ukur untuk menentukan tingkat kebudayaan tulis seseorang, namun masalah ejaan berkaitan dengan masalah mentalitas. Gejala ini bukan sebagai perkembangan terhadap ketentuan-ketentuan Pedoman EYD, tetapi boleh dikatakan tidak banyak media massa yang konsekuen melaksanakan pedoman EYD. Penyimpangan ini terjadi baik pada media massa local maupun nasional. Penyimpangan tersebut misalnya pemakaian angka dua sebagai tanda ulang (orang2 seharusnya orang-orang), penulisaan kata berimbuhan (menyontek seharusnya mencontek), penulisan nama dan gelar (Agustinus Budi Susanto SPD seharusnya Agustinus Budi Susanto, S.Pd.).

Berbagai alasan dari pengelola media massa diutarakan ketika mendapat kritikan dari pembaca. Misalnya, demi penghematan tempat, agar bahasanya lugas atau mudah diterima pembaca dan alasan-alasan lainnya. Alasan tersebut kalau kita cermati memang masuk akal, bahasa media massa sebaiknya lugas, mudah diterima dan penghematan tempat. Namun, kita sebagai pemakai dan pemerhati bahasa hendaknya menyadari akan kesalahan penggunaan bahasa. Kesalahan itu kalau kita biarkan akan merusak kaidah kebahasaan kita. Sebagai upaya untuk mengantisipasi hal tersebut, maka pihak pengelola media massa harus konsekuen untuk melaksanakan pedoman EYD dalam Pers Indonesia, setidaknya EYD dijadikan pedoman agar dapat terhindar penyimpangan yang berlebihan.

*) Mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia serta Bahasa Jawa

Senin, 28 November 2011

SENYUM

Oleh: Ag. Budi Susanto, S.Pd.

Suatu saat apabila kita bertemu dengan teman yang sudah lama tidak jumpa dalam suatu pesta pernikahan atau ulang tahun atau acara lainnya dalam suasana resmi, perasaan kita tentu sangat gembira. Namun kegembiraan tersebut tidak mungkin kita wujudkan dengan berteriak. Cukuplah kita hanya saling melemparkan senyum saja. Barulah setelah ada kesempatan kita saling menghampiri.

Senyum menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah semacam tertawa yang tidak bersuara. Senyum hanyalah merupakan gerakan bibir dan gerakan mulut saja. Senyum ini pada dasarnya dapat kita pakai sebagai alat komunikasi yang menyatakan perasaan gembira, perasaan sedih atau ungkapan berterima kasih.

Charlei Chaplin pernah berkata bahwa senyum itu memiliki harga yang lebih dari sejuta dollar dan senyum sangat mudah untuk menggambarkan kepribadian seseorang. Padahal tersenyum merupakan sesuatu yang sangat mudah dilakukan oleh siapapun. Tersenyum juga tidak memerlukan biaya yang sangat mahal. Tersenyum juga dapat dijadikan sesuatu yang istimewa.

Sebuah lagu mengingatkan kepada kita betapa pentingnya senyum. “Bila bebanmu terasa berat, bila langkahmu terlalu penat. Bila penyakit menyerang dikau, bila harapan itu tiada lagi, bila manusiakan mengecewakan, bila hidupmu sangat tertekan maka hadapilah dengan senyum. Sebab Tuhan adalah pembelamu, sebab Tuhan adalah Penolongmu dan jangan kau bimbang akan semuanya, hadapilah dengan senyum.”

Syair tersebut cukup bagus untuk kita renungkan. Tuhan sangat memberikan penghiburan di waktu kita menghadapi cobaan-cobaan hidup ini. Cobaan-cobaan tersebut harus kita hadapi dengan sentum. Senyum akan mampu meringankan penmderitaan yang kita hadapi.

Lewat syair tersebut juga mampu mengingatkan kita tentang suatu ungkapan yang sering kita dengarkan dalam kehidupan kita sehari-hari. “Orang yang banyak senyum maka akan awet muda.” Hal ini dapat kita kritisi bahwa senyum mampu meringankan cobaan-cobaan hidup ini. Senyum mampu memberikan penghiburan terhadap kita atas cobaan-cobaan hidup ini, sehingga penderitaan kita seolah akan berkurang. Penderitaan yang berkurang membuat diri kita lebih tenang menjalani hidup.

Kalau kita sering memberikan senyum kepada teman atau orang yang baru kita kenal, maka akan timbul rasa senang dan yakinlah bahwa kita akan disenangi mereka. Kita akan mempunyai banyak teman dan orang lain akan menghormati kita. Hal ini akan membuat kita merasa tidak dikucilkan.

Berbicara masalah senyum makan tidak akan lepas dari kelemah-lembutan. Karena itu lain senyum akan lain pula maknanya. Seorang siswa terlihat tersenyum ketika kawan-kawannya yang berada di depan papan pengumuman menanyakan apakah dia lulus ujian atau tidak. Senyuman tersebut oleh teman yang lain dapat ditangkap maknanya bahwa teman mereka itu lulus ujian.

Budi seorang pelajar naksir seorang gadis yang bernama Wati. Budi mengajak Wati untuk nonton. Wati tidak menjawab hanya melemparkan senyum yang manis karena malu dengan teman-temannya. Budi tanggap bahwa senyum yang dilemparkan Wati ini menunjukkan , Wati menyetujui ajakan Budi untuk nonton.

Seorang teman baru saja keluar dari kamar ICU Rumah Sakit, saya bertanya “Bagaimana keadaan sakit kakekmu?” Bibir teman tersebut hanya tersenyum sedikit dan matanya sayup memandangiku. Air matanya mulai membasahi pipinya. Senyuman yang dilemparkan teman tersebut dapat diduga bahwa kakeknya telah meninggal dunia.

Beberapa waktu yang lalu ketika aku tiba di terminal dan melihat seorang wanita yang berkain kumal sedang membaca Koran dengan tulisan terbalik. Kemudian dia melemparkan senyum kepadaku dan melihatku. Menghadapi hal tersebut saya harus berhati-hati. Sebab orang yang saya hadapi ini adalah orang yang kurang ingatan atau abnormal.

Senyum pada dasarnya banyak manfaatnya dan arti senyum tersebut dapat kita lihat melalui ekspresi dan keadaan orang yang melemparkan senyum.

*) Guru SMA Pangudi Luhur “St Louis IX” Sedayu

@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@

MENUMBUHKAN RASA OPTIMISME PADA SISWA

Oleh: Ag. Budi Susanto, S.Pd.

Posisi guru sangatlah strategis dalam dalam meningkatkan kwalitas pendidikan. Untuk mencapai hal tersebut maka profesionalitas guru haruslah selalu ditingkatkan. Peningkatan profesionalitas guru dapat dilakukan denganberbagai macam. Misalnya pemerintah mengadakan program sertifikasi bagi guru. Para guru yang berhak menyandang sebagai guru profesional harus melalui tahapan dengan uji portofolio maupun jalur pendidikan.

Idealnya guru yang sudah memiliki gelar guru profesional tentunya harus banyak perubahan dalam menjalani profesinya. Mereka harus sungguh-sungguh memiliki kemampuan mengajar yang lebih baik. Walaupun pada prisipnya keberhasilan pendidikan juga salah satunya ditentukan oleh siswa sendiri.

Agar para siswa sungguh menyadari akan tujuan mereka belajar salah satu yang bisa kita tanamkan pada diri mereka adalah penanaman rasa optimisme bagi mereka. Ketika mereka memiliki rasa optimisme yang kuat jelas keberhasilan mereka akan lebih baik. Mereka menatap masa depan yang lebih baik, mereka belajar memiliki harapan kelak akan menjadi orang yang berhasil.

Kembali kita tengok pesan para orangtua kepada anaknya ketika menempuh pendidikan. “Kamu harus jadi orang yang lebih berhasil dari pada orang tuamu!” Ketika orang tuanya sebagai buruh tani maka diharapkan anaknya jadi pemilik pertanian. Ketika orang tuanya sebagai pesuruh anaknya diharapkan bisa jadi tata usaha atau guru. Gambaran tersebut sebenarnya kalau kita kritisi sungguh orangtua sangat kuat menanamkan rasa optimisme bagi para anaknya.

Lalu bagaimana seorang guru dalam menanamkan rasa optimisme kepada para siswanya? Siswa kita datang dari berbagai latar belakang keluarga yang berbeda-beda. Mereka ada dari keluarga kaya dan terpandang tetapi juga ada dari keluarga yang kurang mampu. Bagi mereka yang dari keluarga terpandang atau orangtuanya kaya fasilitas terpenuhi seolah untuk mencapai suatu perubahan akan mudah. Mereka memiliki kesempatan menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Namun tentuya tidak jarang ada diantara mereka yang tidak menyadari akan dukungan dari orangtuanya.

Guru yang bijaksana harus mampu menyadarkan mereka akan pentingnya belajar. Kekayaan orangtua tidak selamanya akan menjamin masa depannya. Siswa harus sungguh-sungguh mempersiapkan dari sekarang untuk masa depannya. Belajar adalah tugas utamanya tanpa itu masa depan yang lebih baik tidak akan tergapai.

Sedangkan bagi siswa yang dari keluarga yang kurang mampu atau kemampuan akademik siswa yang kurang, tugas guru untuk menanamkan rasa optimisme sangatlah diharapkan. Kita harus selalu memberikan motivasi kepada mereka bahwa masalah kekayaan dan fasilitas yang serba lengkap belum tentu menjamin masa depan. Kemauan siswa untuk belajar dan belajar adalah modal utama keberhasilan hidup. Dengan fasilitas terbatas bukanlah penghambat keberhasilan dalam belajar untuk masa depan. Misalnya guru berusaha menguatkan mereka dengan memberikan contoh-contoh tokoh yang berhasil dari keluarga yang sederhana. Tentunya banyak tokoh nasional atau dunia yang berhasil berangkat dari keluarga tidak mampu.

Bagi siswa yang kurang bagus dalam bidang akademik sangatlah penting untuk selalu kita tanamkan rasa optimisme kepada mereka. Kita jangan sekali-sekali mengatakan kata bodoh, tolol, dan sebaginya. Kata-kata tersebut akan mematikan semangat mereka. Mungkin akan lebih baik kalau kita mengatakan kamu hanya kurang semangat dalam belajar atau coba kamu belajar lebih giat lagi. Dengan kata-kata tersebut siswa akan merasa bahwa dirinya dimanusiakan. Hal ini akan berpengaruh dalam semangat belajar mereka.

Seorang guru yang mampu memberikan motivasi kepada para siswanya dalam belajar tentunya siswa akan memandang bahwa masa depannya ditentukan dari dirinya sendiri, merekalah layak sebagai guru yang profesional. Siswapun akan merasa senang dengan guru. Maka tugas kita yang lain sebagai guru mengajarkan ilmu pengetahuan akan mudah diserap oleh para siswa. Siswa akan memiliki semangat belajar yang bagus. Keberhasailan dalam proses belajar mengajar akan tercapai dengan maksimal. Semoga!!!!!!!!!!!!!!!!!

@@@@@@@@@@@@@@@@@@@

Ag. Budi Susanto, S.Pd.

Guru SMA PL ”St Louis IX” Sedayu

Jln Wates KM 12 Sedayu Bantul Yogyakarta