Jumat, 08 Februari 2013

PUISI PAYUNG


Ketika Payung Kehilangan Fungsi


Engkau tak lagi sanggup memanyungi
Jiwa-jiwa yang basah ini
Dari derasnya  air kedengkian

 Engkau tak lagi sanggup memayungi
 Jiwa-jiwa yang kering ini
 Dari panasnya dosa-dosa

Engkau hanya menjadi pemanis
Di ruang-ruang keserakahan
Di ruang-ruang kesombongan
Di ruang-ruang kemunafikan

Payung yang tak layak sebagai payung
Payung yang hanya sebuah nama
Payung yang lepas dari fungsinya
Payung yang hanya tinggal sebuah nama
                              (Ag. Budi Susanto, Januari 2011)

Ketika Payung dicampakan

Engkau tergelatak ……..
Di depan pintu
Bercampur sandal-sendal

Engkau terinjak-injak
Engkau terludai
Engkau teraniaya

Payung yang rusak
Payung yang kotor
Payung yang berubah
Sebagai sampah

Daunmu yang ternoda
Jerujimu yang terputus
Membuat engkau tak sanggup berkibar
Di antara payung-payung dunia

Engkau harus sadar kesombonganmu
Engkau harus bangkit dari kesakitanmu
Engkau harus bersemangat kondisimu
                            (Ag. Budi Suanto, Februari 2011)

Ketika Payung dihadapkan kepada Payung yang Maha Payung


Oh…….payung..
Mana kelantanganmu?
Mana keangkuhanmu?
Mana kebesaranmu?
Ya….sebuah payung dekil
Yang tampak dalam dirimu

Engkau tak sanggup berkata
Engkat tak sanggup bicara
Engkau tak sanggup bersapa

Daunmu yang layu
Daunmu yang suram
Daunmu yang kering
Membuat dirimu tak sedap dilihat
Ketika engkau dihadapankan dengan payung yang maha payung

                         (Ag. Budi Susanto, Februari 2011)

Ketika Payung Menjadi Bijaksana Kembali

Daunmu yang cerah
Daunmu yang bersolek
Daunmu yang tenang
Membuat jiwa-jiwa nyaman

Engkau kembali mampu menjadi pelindung
Ketika hujan membahasi dunia
Ketika matahari menyengat kulit

Engkau sungguh berubah
Engkau kembali pada fungsimu
Engkau kembali bersinar

Payung kembalilah…….
Menjadi payung yang bijaksana
(Ag. Budi Susanto, April 2011)






  KETIKA PAYUNG HARUS TERTUNDUK

Hujanan kata,
Hujanan emosional,
Hujanan kekecewaan,
Hujanan ketidakpuasaan,
Menerpa payung yang kecil.

Mungkinkah,
Ia kuat menaham beban?

Mungkinkah,
Ia sanggup menanggung beban?

Dengan jeruji-jeruji kecil,
Dengan besi-besi lemah,
Dalam mempertahankan diri.

Ya..................
Ia hanya bisa diam,
Ia hanya bisa terpaku,
Ia hanya bisa menunduk.

Dan....
Kata,
Emosi,
Kecewa,
Ketidakpuasan,
Terus menghujani payung kecil itu...............

                       Ag. Budi Susanto. Juni 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar