Jumat, 25 November 2011

MENCIPTAKAN SUASANA PENDIDIKAN YANG MENYENANGKAN

Oleh: Ag. Budi Susanto S.Pd.

Sekolah merupakan tempat untuk menumbuh-kembangkan siswa. Diharapkan dengan menempuh pendidikan di sekolah kepribadian dan intelektual siswa semakin berkembang. Kepribadian yang matang akan membuat mereka mampu mandiri, bertanggungjawab, punya sikap menhargai, berjiwa sosial, tahu tata krama dan sebagainya. Sedangkan dengan intelektual yang matang mereka akan mampu berfikir kritis dan logis dalam menghadapi kehidupan.

Untuk mewujudkan manusia yang handal dalam kepribadian maupun intelektual, salah satunya harus didukung suasana pendidikan yang menyenangkan. Suasana ini membuat para siswa krasan di sekolah. Krasan dalam hal ini adalah adanya dorongan untuk mengikuti proses belajar mengajr di sekolah sehingga akan membantu proses belajar mengajar berjalan lancar dan optimal.

Usaha untuk menciptakan suasana pendidikan yang menyenangkan dapat dilakukan melalui lingkungan sekolah dan dalam proses belajar mengajar. Hal ini dilakukan dengan menciptakan lingkungan sekolah yang nyaman dan aman untuk belajar serta adanya sosok guru yang ngangeni.

Sekolah yang Nyaman dan Aman

Menciptakan lingkungan sekolah yang nyaman dan aman untuk belajar dapat dilakukan dengan berbagai cara. Sekolah yang aman dalam hal ini mengandung pengertian bahwa sekolah mampu menghindarkan pengaruh-pengaruh yang kurang baik bagi para siswa. Misalnya: mabuk-mabukan, penggunaan obat terlarang, tawuran antar pelajar dan tindakan-tindakan lainnya. Pencegahan yang dapat dilakukan sekolah di antaranya dengan penyuluhan maupun dengan kegiatan-kegiatan di luar kegiatan be;ajar mengajar.

Sekolah sebagai tempat yang nyaman untuk belajar dapat dilakukan dengan penyediaan fasilitas yang memadahi dan lingkngan yang menyenangkan. Misalnya adanya ruang baca yang nyaman, laboratorium yang lengkap, kantin yang memadahi, tersedianya buku-buku yang memadahi dan fasilitas lainnya. Lingkungan yang menyenangkan ini misalnya: lingkungan sekolah yang menarik, taman sekolah yang cukup rindang, ketersediaan udara yang bersih dan sebagainya. Kesemuanya ini akan membuat siswa semakin krasan untuk belajar atau berada di sekolah.

Guru yang Menarik

Kita sebagai guru harus sungguh-sungguh berusaha untuk menjadi guru yang menarik. Beberapa hal yang bisa kita lakukan antara lain: menghindarkan diri menjadi guru yang terkesan pemberi nasehat, mencurahakan perhatian kepada para siswa dan banyak menyelipkan humor-humor segar dalam proses belajar mengajar.

Guru yang banyak memeberi nasehat hanya akan terkesan membuang waktu. Nasehat yang kita ulang-ulang akan masuk ke telingan kiri keluar melalui teligan kanan. Mereka akan pura-pura takut dengan kita tetapi ketika di belakang akan meremehkan kita. Di sini justru kewibawaan kita menjadi turun. Hal yang dibutuhkan bagi mereka adalah keteladanan kita. Keteladanan dalam sikap, perbuatan dan tindakan kita baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Penuh pengertian dapat kita wujudkan dengan sikap mudah bergaul, mudah menyapa dan mudah menerima orang lain. Anak di dalam hal ini kita anggap sebagai teman. Sebagai seorang guru harus bisa menerima siswa apa adanya. Pilih kasih terhadap siswa harus kita buang jauh-jauh dari diri kita sebagai seorang guru yang juga pendidik. Sikap ini akan membuat siswa terkesn dengan kita.

Humor-humor segar dari kita perlu dilontarkan dalam proses belajar mengajar. Materi humor yang kita selipkan dapat diangkat dari kehidupan sekitar siswa. Humor ini mampu membuat siswa krasan untuk bersama dengan kita dalam belajar. Guru yang suka humor menarik atau ngangeni bagi siswa. Kehadiran kita akan selalu dinantikan di dalam kelas, prlajaranm kita menjadi menarik tentunya.

Menjadikan sekolah sebagai lingkungan yang nyaman dan aman serta kita mencoba membuat siswa tertarik dengn kita mampu membangitkan rasa senang bagi para siswa. Mereka menjadi krasan untuk belajar di sekolah. Proses belajar mengajar akan berjalan dengan lancar dab optimal. Semoga!!!!!!!!!!

Guru SMA Pangudi Luhur Sedayu Bantul Yogyakarta

&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&

MENGENAL PRIBADI PESERTA DIDIK

Oleh: Ag. Budi Susanto, S.Pd.

Tugas guru tidak hanya sebatas memberikan pengajaran secara akademik sesuai dengan kurikulum semata. Akan tetapi, guru memiliki tanggungjawab yang kompleks, termasuk bagaimana mengembangkan kepribadian dan bakat masing-masing anak didik untuk mencapai kemajuan.

Oleh karena itu, mestinya keberhasilan guru tidak hanya diukur dari selesai tidaknya guru menyelesaikan target ajar sesuai kurikulum, tetapi juga seberapa jauh kwalitas output yang dihasilkannya. Materi yang diajarkan sesuai dengan target belum tentu menjamin keberhasilan para siswa. Namun karena dibenturkan dengan Ujian Nasional guru harus berlari mengejar materi.

Pendekatan Personal dan Intensif

Untuk mencapai peran guru yang ideal tersebut, salah satu hal yang harus dilakukan guru terhadap anak didik adalah kemauan memperhatikan secara personal dan intensif. Hal ini dilakukan agar kita dapat mengetahui kepribadian dan keunikan setiap anak didik. Dengan demikian kita dapat mengarahkan perkembangan keunikan masing-masing anak didik Berkembangannya keunikan dari masing-masing anak didik ini mempunyai tujuan agar mereka mempunyai bekal yang cukup untuk menghadapi kehidupan nyata di dalam masyarakat.

Pada prinsipnya, pendidikan bukan hanya bertujuan untuk mencetak output yang pintar dan cerdas saja. Lebih dari itu, pendidikan juga mengusung tanggungjawab untuk menelorkan output yang pintar sekaligus baik dan berbudi. Untuk sampai ke arah itu, maka kita harus mengenal masing-masing anak didik.

Pengenalan masing-masing anak didik ini sangat penting agar secara pribadi kita dapat dekat dengan mereka. Adanya kedekatan kita dengan para anak didik akan menciptakan suatu kondisi yang baik sehingga proses belajar mengajar akan berjalan dengan baik dan lancar.

Kontak dengan Anak Didik

Langkah awal yang bisa kita tempuh untuk mengenal anak didik , misalnya bagaimana guru dapat mengenal dengan baik nama msaing-masing anak didik. Memang hal ini terkesan sepele dan mudah dilakukan, padahal sebetulnya berawal dari sini maka pendekatan guru terhadap anak didik dalam rangka proses pendidikan itu dapat berlangsung dengan baik. Dalam hal ini guru harus melakukan kontak dengan anak didik, yang bisa dilakukan secara formal maupun informal. Akan tetapi pendekatan semacam ini membutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga dalam hal ini dedikasi dan totalitas kita sebagai guru benar-benar ditantang.

Dengan mengenal baik nama-nama peserta anak didik, kita sudah menciptakan suatu kondisi pengajaran yang kondusif. Kondisi tersebut selain mendorong anak didik semakin dekat dengan guru, anak didik juga merasa diperhatikan. Pada gilirannya, anak didik akan terdorong untuk mengenal guru sehingga tercipta suasana yang saling mengenal. Mereka tidak lagi menganggap kita sebagai guru yang galak, kolot, yang menakutkan, guru yang menyulitkan dan sebagainya.

Sering kita mendengar dari anak didik bahwa pelajaran matematika, kimia, fisika dan bahasa inggris menakutkan dan dianggap sulit oleh anak didik. Anggapan ini akan luntur bersama dengan situasi persahabatan yang telah tercipta. Dan bisa jadi sebaliknya, pelajaran tersebut justru bisa menjadi pelajaran yang cukup mengasyikan.

Sekali lagi, mengenal anak didik sangat diperlukan karena dalam proses belajar mengajar tidak hanya berupa pembelajaran bersifat akademik saja. Tetapi dalam proses belajar mengajar juga memuat tugas yang lebih tinggi, yakni membentuk kepribadian anak didik atau memanusiakan manusia muda (meminjam istilah Pendidikan Humanistik). Kalau kita tidak mengenal masing-masing anak didik bagaimana mungkin kita bisa membentuk pribai mereka?

*) Guru SMA Pangudi Luhur ”St Louis IX” Sedayu

&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&

UJIAN NASIONAl: Menguji Kejujuran

Oleh: Ag. Budi Susanto, S.Pd.

Perhelatan besar dalam dunia pendidikan sedang berlangsung. Ujian Nasional merupakan perhelatan yang besar dan digelar mulai Senin 18 April 2011 untuk jenjang SMA/SMK. Seluruh pelaku dalam dunia pendidikan cukup disibukan dengan agenda tersebut. Untuk menuju perhelatan ini perlu persiapan yang panjang dari seluruh pelaku dalam dunia pendidikan.

Pihak sekolah cukup lama dalam mempersiapkannya. Persiapan ini terkhususkan dalam mempersiapkan anak didiknya agar mampu menempuh Ujian Nasional dengan hasil yang memuaskan. Kegiatan yang dilakukan dengan memberikan tambahan jam pelajaran pada bidang studi yang di-UN-kan sejak awal tahun pelajaran. Disamping itu juga dengan mengadakan TRY-OUT atau Uji Coba Ujian Nasional, baik soal-soal yang dibuat guru bidang studi sendiri ataupun dari Diknas.

Penambahan jam dan Try-Out ini mempunyai harapan agar para siswa dapat lulus dengan hasil yang memuaskan. Untuk mewujudkannya tentu membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Khusus bagi para siswa, mereka seharusnya bisa memanfaatkan penambahan jam pelajaran dan Try-Out ini dengan sebaik-baiknya. Namun kenyataan di lapangan siswa kurang bisa memaanfaatkannya dengan baik.

Kurangnya siswa memanfaatkan kesempatan yang diberikan sekolah ini berdampak kepada diri siswa sendiri adalah tidak siap menghadapi Ujian Nasional. Kurang siapnya menghadapi Ujian Nasional inilah sebagai pemicu munculkan kecurangan dalam Ujian Nasional. Mereka akan menghalalkan berbagai cara atau jalan pintas asal Ujian Nasional lulus.

Banyak kasus kecurangan kita jumpai dalam pelaksanaan Ujian Nasional dari tahun ketahun. Baik kasus yang kita temukan langsung sebagai pengawas Ujian Nasional maupun kasus lain yang sempat terekspo di media massa. Kasus yang sering kita temukan langsung ketika kita menjadi pengawas Ujian Nasional misalnya kerjasama dengan siswa lain, mencontek, dan kasus-kasus yang lain.

Kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Nasional yang sempat terekspo di media massa cukup mencoreng muka dunia pendidikan. Misalnya: beberapa kepala sekolah di Bengkulu tertangkap basah melakukan kecurangan dalam Ujian Nasional, Di Jawa Timur ada sebuah sekolah terpaksa dilakukan Ujian Ulangan karena seluruh siswa tidak lulus Ujian Nasional karena disinyalir adanya beredar kunci jawaban yang salah, di Yogyakarta sendiri tahun lalu ketidaklulusannya cukup tinggi banyak siswa yang mempercayai kunci jawaban yang beredar dan ternyata salah. Dan tentunnya banyak kasusu yang lain yang cukup menjadi keprihatinan kita bersama.

Meminimalisir Tindak Kecurangan

Maraknya tindak kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Nasional pemerintah terus menerus menyempurnakan aturan dalam pelaksanaan Ujian Nasional. Untuk tahun ini memberlakukan lima macam paket soal dalam Ujian Nasional. Hal ini untuk membatasi gerak siswa untuk melakukan tindak kecurangan dalam Ujian Nasional.

Adanya lima macam soal ini membuat siswa sulit untuk melakukan kerjasama dengan teman dalam mengerjakan soal Ujian Nasional. Soalm yang dikerjakan siswa berbeda dengan soal yang dikerjakan siswa di depan, belakang maupun kanan kiarinya. Terlebih lagi setiap bidang studi siswa mengejakan soal yang berbeda paketnya. Sebagai pelaku kita hendaknya menyambut baik upaya ini agar Ujian Nasional betul-betul bebas dari kecurangan.

Untuk pengawasan Ujian Nasional tahun ini juga melibatkan pihak dari perguruan tinggi. Hal ini dilakukan agar Ujian Nasional betul-betul terbebas dari tindak kecurangan. Para pengawas dari perguruan tinggi akan mengadakan Uji Petik ke sekolah-sekolah. Mereka akan menggantikan pengawas yang ada dan membawa pekerjaan siswa dan dikoreksi langsung oleh mereka. Untuk sekolah dan ruangan ujian tidak diberitahukan. Mereka akan datang tiba-tiba di sekolah.

Uji Petik ini akan mampu menekan tindak kecurangan dalam Ujian Nasional. Harapannya sekolah maupun siswa akan membuang jauh-jauh untuk melakukan kecurangan dalam Ujian Nasional. Suatu sekolah ketika kedapatan melakukan kecurangan akan mendapatkan sanksi. Nama baik sekolah akan menjadi kurang baik, dan akhirnya berpengaruh terhadap penerimaan siswa baru.

Ujian Nasional tidak Lagi Penentu Kelulusan

Ujian Nasional tahun sebelumnya seolah sebagai penentu kelulusan bagi siswa. Siswa tidak lulus disebabkan oleh Ujian Nasional saja. Padahal sebenarnya Ujian Sekolah selain mata pelajaran yang di -UN-kan juga menentukan kelulusan siswa. Namun di lapangan hampir tidak kita temukan sekolah yang tidak meluluskan siswanya karena nilai Ujian Sekolahnya.

Untuk tahun ini nilai rapot semester 3 sampai semester 5 ikut menentukan kelulusan di samping itu juga Ujian sekolah juga menentukan kelulusan. Ujian Nasional tidak lagi menjadi momok bagi siswa maupun orang tua siswa. Keterlibatan sekolah dalam menentukan kelulusan diperlukan. Gurulah yang sebenarnya lebih tahu bahwa siswanya layak lulus atau perlu mengulang.

Melihat aturan penentu kelulusan yang sekarang memungkinkan pihak sekolah melakukan kecurangan. Bagi sekolah yang hanya sekedar untuk menjaga nama baik sangatlah mudah memanipulasi nilai rapot maupun nilai Ujian Nasional. Memberikan bekal nilai yang tinggi dalam rapot dan nilai ujian sekolah akan memungkinkan siswa mudah lulus walaupun nilai Ujian Nasionalnya sangat rendah.

Harapan kita bersama tentunya manipulasi nilai ini harus dibuang jauh-jauh kalau menginginkan pendidikan di negeri ini lebih baik. Maka marilah kita tegakkan kejujuran dalam Ujian Nasional dan dalam memberikan kelulusan kepada putra –putri kita. Upaya yang dilakukan dengan penyempurnaan-penyempurnaan aturan dalam Ujian Nasional ini sungguh-sungguh kita terapkan demi berkualitasnya pendidikan kita. Semoga!!!!!!!!!!!!!!

Ag. Budi Susanto, S.Pd.

Guru SMA Pangudi Luhur “St Louis IX” Sedayu

Jl Wates Km 12 Sedayu Bantul Yogyakarta

MENUMBUHKAN RASA OPTIMISME PADA SISWA

Oleh: Ag. Budi Susanto, S.Pd.

Posisi guru sangatlah strategis dalam dalam meningkatkan kwalitas pendidikan. Untuk mencapai hal tersebut maka profesionalitas guru haruslah selalu ditingkatkan. Peningkatan profesionalitas guru dapat dilakukan denganberbagai macam. Misalnya pemerintah mengadakan program sertifikasi bagi guru. Para guru yang berhak menyandang sebagai guru profesional harus melalui tahapan dengan uji portofolio maupun jalur pendidikan.

Idealnya guru yang sudah memiliki gelar guru profesional tentunya harus banyak perubahan dalam menjalani profesinya. Mereka harus sungguh-sungguh memiliki kemampuan mengajar yang lebih baik. Walaupun pada prisipnya keberhasilan pendidikan juga salah satunya ditentukan oleh siswa sendiri.

Agar para siswa sungguh menyadari akan tujuan mereka belajar salah satu yang bisa kita tanamkan pada diri mereka adalah penanaman rasa optimisme bagi mereka. Ketika mereka memiliki rasa optimisme yang kuat jelas keberhasilan mereka akan lebih baik. Mereka menatap masa depan yang lebih baik, mereka belajar memiliki harapan kelak akan menjadi orang yang berhasil.

Kembali kita tengok pesan para orangtua kepada anaknya ketika menempuh pendidikan. “Kamu harus jadi orang yang lebih berhasil dari pada orang tuamu!” Ketika orang tuanya sebagai buruh tani maka diharapkan anaknya jadi pemilik pertanian. Ketika orang tuanya sebagai pesuruh anaknya diharapkan bisa jadi tata usaha atau guru. Gambaran tersebut sebenarnya kalau kita kritisi sungguh orangtua sangat kuat menanamkan rasa optimisme bagi para anaknya.

Lalu bagaimana seorang guru dalam menanamkan rasa optimisme kepada para siswanya? Siswa kita datang dari berbagai latar belakang keluarga yang berbeda-beda. Mereka ada dari keluarga kaya dan terpandang tetapi juga ada dari keluarga yang kurang mampu. Bagi mereka yang dari keluarga terpandang atau orangtuanya kaya fasilitas terpenuhi seolah untuk mencapai suatu perubahan akan mudah. Mereka memiliki kesempatan menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Namun tentuya tidak jarang ada diantara mereka yang tidak menyadari akan dukungan dari orangtuanya.

Guru yang bijaksana harus mampu menyadarkan mereka akan pentingnya belajar. Kekayaan orangtua tidak selamanya akan menjamin masa depannya. Siswa harus sungguh-sungguh mempersiapkan dari sekarang untuk masa depannya. Belajar adalah tugas utamanya tanpa itu masa depan yang lebih baik tidak akan tergapai.

Sedangkan bagi siswa yang dari keluarga yang kurang mampu atau kemampuan akademik siswa yang kurang, tugas guru untuk menanamkan rasa optimisme sangatlah diharapkan. Kita harus selalu memberikan motivasi kepada mereka bahwa masalah kekayaan dan fasilitas yang serba lengkap belum tentu menjamin masa depan. Kemauan siswa untuk belajar dan belajar adalah modal utama keberhasilan hidup. Dengan fasilitas terbatas bukanlah penghambat keberhasilan dalam belajar untuk masa depan. Misalnya guru berusaha menguatkan mereka dengan memberikan contoh-contoh tokoh yang berhasil dari keluarga yang sederhana. Tentunya banyak tokoh nasional atau dunia yang berhasil berangkat dari keluarga tidak mampu.

Bagi siswa yang kurang bagus dalam bidang akademik sangatlah penting untuk selalu kita tanamkan rasa optimisme kepada mereka. Kita jangan sekali-sekali mengatakan kata bodoh, tolol, dan sebaginya. Kata-kata tersebut akan mematikan semangat mereka. Mungkin akan lebih baik kalau kita mengatakan kamu hanya kurang semangat dalam belajar atau coba kamu belajar lebih giat lagi. Dengan kata-kata tersebut siswa akan merasa bahwa dirinya dimanusiakan. Hal ini akan berpengaruh dalam semangat belajar mereka.

Seorang guru yang mampu memberikan motivasi kepada para siswanya dalam belajar tentunya siswa akan memandang bahwa masa depannya ditentukan dari dirinya sendiri, merekalah layak sebagai guru yang profesional. Siswapun akan merasa senang dengan guru. Maka tugas kita yang lain sebagai guru mengajarkan ilmu pengetahuan akan mudah diserap oleh para siswa. Siswa akan memiliki semangat belajar yang bagus. Keberhasailan dalam proses belajar mengajar akan tercapai dengan maksimal. Semoga!!!!!!!!!!!!!!!!!

@@@@@@@@@@@@@@@@@@@

Ag. Budi Susanto, S.Pd.

Guru SMA PL ”St Louis IX” Sedayu

Jln Wates KM 12 Sedayu Bantul Yogyakarta