Rabu, 12 Januari 2011

BAHASA MEDIA MASSA DAN KONSEKUENSI TERHADAP EYD

PEMBINAAN BAHASA

BAHASA MEDIA MASSA DAN KONSEKUENSI TERHADAP EYD

Oleh: Ag. Budi Susanto, S.Pd.

Pemakaian bahasa yang cermat dalam penulisan bukan semata-mata demi citarasa kebahasaan. Bahasa yang ditulis untuk mengungkapkan sesuatu pada dasarnya merupakan suatu rekontruksi secara tertulis. Hanya lewat bahasa yang cermatlah rekontruksi itu dapat mengantar pembaca untuk membayangkan apa yang sesungguhnya terjadi. Penulisan kata, kalimat dan alinea tanpa kecermatan, kemungkinan besar berpengaruh pada pemahaman yang diperoleh pembaca dan kenyataan jauh berbeda.

Ketidakcermatan dalam pemakaian bahasa mengakibatkan suatu tindakan penyelewengan terhadap kaidah ketatabahasaan atau pedoman EYD. Hal ini kalau dibiarkan akan merusak kaidah Bahasa Indonesia. Penyelewengan kebahasaan dalam bahasa media massa nampak jelas pada penerapan ejaan.

Masalah ejaan memang bukan tolok ukur untuk menentukan tingkat kebudayaan tulis seseorang, namun masalah ejaan berkaitan dengan masalah mentalitas. Gejala ini bukan sebagai perkembangan terhadap ketentuan-ketentuan Pedoman EYD, tetapi boleh dikatakan tidak banyak media massa yang konsekuen melaksanakan pedoman EYD. Penyimpangan ini terjadi baik pada media massa local maupun nasional. Penyimpangan tersebut misalnya pemakaian angka dua sebagai tanda ulang (orang2 seharusnya orang-orang), penulisaan kata berimbuhan (menyontek seharusnya mencontek), penulisan nama dan gelar (Agustinus Budi Susanto SPD seharusnya Agustinus Budi Susanto, S.Pd.).

Berbagai alasan dari pengelola media massa diutarakan ketika mendapat kritikan dari pembaca. Misalnya, demi penghematan tempat, agar bahasanya lugas atau mudah diterima pembaca dan alasan-alasan lainnya. Alasan tersebut kalau kita cermati memang masuk akal, bahasa media massa sebaiknya lugas, mudah diterima dan penghematan tempat. Namun, kita sebagai pemakai dan pemerhati bahasa hendaknya menyadari akan kesalahan penggunaan bahasa. Kesalahan itu kalau kita biarkan akan merusak kaidah kebahasaan kita. Sebagai upaya untuk mengantisipasi hal tersebut, maka pihak pengelola media massa harus konsekuen untuk melaksanakan pedoman EYD dalam Pers Indonesia, setidaknya EYD dijadikan pedoman agar dapat terhindar penyimpangan yang berlebihan.

*) Mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia serta Bahasa Jawa

Kamis, 09 Desember 2010

FOTO MERAPI

ANTOLOGI PAYUNG

Ketika Payung Kehilangan Fungsi

Engkau tak lagi sanggup memanyungi

Jiwa-jiwa yang basah ini

Dari derasnya air kedengkian

Engkau tak lagi sanggup memayungi

Jiwa-jiwa yang kering ini

Dari panasnya dosa-dosa

Engkau hanya menjadi pemanis

Di ruang-ruang keserakahan

Di ruang-ruang kesombongan

Di ruang-ruang kemunafikan

Payung yang tak layak sebagai payung

Payung yang hanya sebuah nama

Payung yang lepas dari fungsinya

Payung yang hanya tinggal sebuah nama

(Ag. Budi Susanto, Januari 2010)

Ketika Payung dicampakan

Engkau tergelatak ……..

Di depan pintu

Bercampur sandal-sendal

Engkau terinjak-injak

Engkau terludai

Engkau teraniaya

Payung yang rusak

Payung yang kotor

Payung yang berubah

Sebagai sampah

Daunmu yang ternoda

Jerujimu yang terputus

Membuat engkau tak sanggup berkibar

Di antara payung-payung dunia

Engkau harus sadar kesombonganmu

Engkau harus bangkit dari kesakitanmu

Engkau harus bersemangat kondisimu

(Ag. Budi Suanto, Januari 2010)

Ketika Payung dihadapkan kepada Payung yang Maha Payung

Oh…….payung..

Mana kelantanganmu?

Mana keangkuhanmu?

Mana kebesaranmu?

Ya….sebuah payung dekil

Yang tampak dalam dirimu

Engkau tak sanggup berkata

Engkat tak sanggup bicara

Engkau tak sanggup bersapa

Daunmu yang layu

Daunmu yang suram

Daunmu yang kering

Membuat dirimu tak sedap dilihat

Ketika engkau dihadapankan dengan payung yang maha payung

(Ag. Budi Susanto, Februari 2010)

Ketika Payung Menjadi Bijaksana Kembali

Daunmu yang cerah

Daunmu yang bersolek

Daunmu yang tenang

Membuat jiwa-jiwa nyaman

Engkau kembali mampu menjadi pelindung

Ketika hujan membahasi dunia

Ketika matahari menyengat kulit

Engkau sungguh berubah

Engkau kembali pada fungsimu

Engkau kembali bersinar

Payung kembalilah…….

Menjadi payung yang bijaksana

(Ag. Budi Susanto, Februari 2010)

Mendidik: Gampang-gampang Susah

Mendidik : Gampang-gampang Susah

MENDIDIK pada dasarnya tidak hanya sekedar mengkomunikasikan fakta, gagasan dan pengetahuan. Mendidik adalah juga suatu proses untuk membantu menumbuhkembangkan pribadi anak didik.

Namun,untuk mewujudkan seorang pendidik yang mampu melakukan pekerjaan besar itu diperlukan suatu proses yang cukup lama. Sebab mereka harus mengeyam pendidikan khusus, yang mendidik mereka menjadi seorang pendidik yang efektif. Hal ini misalnya dapat ditempuh dengan sekolah kependidikan.

Kenyataan yang kita jumpai sekarang ini sungguh berlainan. Beberapa kasus dalam penerimaan guru, baik sekolah swasta maupun negeri menjadi salah satu bukti. Kebanyakan mereka menerima guru dengan status bukan lulusan kependidikan.

Memang kebanyakan dari mereka sudah menempuh Akta IV sebagai syarat menjadi seorang guru. Sebuah pertanyaan bisa kita ajukan untuk mengkritisi hal tersebut, Apakah mereka betul-betul siap menjadi seorang pendidik yang tidak hanya bertugas mengajar? Pertanyaan ini terlontar juga dengan dasar latar belakang mereka sejak awal dalam perkuliahan tidakdipersiapkan menjadi pendidik, atau dari awal mereka tidak mempunyai motivasi menjadi seorang pendidik.

Sebagian mereka masuk dalam dunia pendidikan dengan alasan yang kurang enak didengar, mentok mencari pekerjaan akhirnya lari masuk ke dunia pendidikan. Akhir-akhir ini munculnya sertifikasi guru, nampaknya sebagai salah satu yang memotivasi mereka juga lari ke dunia pendidikan. Namun juga tentunya pasti ada yang memang terpanggil dalam dunia pendidikan tanpa alasan tersebut.

Seorang guru yang juga pendidik pada dasarnya tidak hanya bisa dipersiapkan dalam waktu singkat. Misalnya mereka mengambil program AKTA IV dalam waktu satu tahun atau dua semester. Apakah cukup dengan waktu dua semester mempersiapkan menjadi guru yang sekaligus pendidik juga? Kalau memang begitu sungguh luar biasa proses yang secepat itu. Proses yang singkat tersebut tentunya hanya mampu mendapatkan sekedar teori tentang kependidikan saja.

Terlepas dari uraian di atas, kita tentu tahu bahwa langkah awal yang dapat dilakukan untuk membantu menumbuhkembangkan anak didik adalah dengan mengenal pribadi masing-masing anak didik. Memang hal ini terkesan sepele dan mudah untuk dilakukan. Namun harus kita ingat, dari sinilah awal pendekatan pendidik terhadap anak didik dalam rangka supaya proses pendidikan dapat berlangsung dengan baik.

Karena itu, pendidik harus melakukan kontak dengan anak didik, baik secara formal maupun informal. Pendekatan semacam ini tentu saja membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga dedikasi dan totalitas pendidik cukup tertantang.

Dengan mengenal pribadi anak didik akan tercipta kondisi pengajaran yang kondusif. Kondisi ini mendorong anak didik semakin dekat dengan kita selaku pendidik. Mereka tidak lagi menganggap kita sebagai guru yang menakutkan, guru yang menyulitkan, dan sebutan lain yang kurang baik di mata anak didik.

Namun untuk menumbuhkembangkan anak didik dibutuhkan juga penanaman sikap. Salah satu sikap itu adalah kejujuran. Sikap kejujuran merupakan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur. Ketika kita dapat menerapkan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur, maka kita dapat menerapkan mekanisme ”siap dan mau menerima sanksi” atas tindakan indispliner mereka.

Sebagai pendidik, kita memang harus tegas memberikan sanksi kepada anak didik yang melanggar. Ketika seorang anak didik menyontek saat ujian, tentu saja kita harus tegas dan jelas dalam memberikan sanksi. Hal ini kita lakukan agar mereka jera dan mampu meminimalisir yang lain agar tidak menyontek.

Kepedulian sosial juga harus kita tanamkan dalam diri anak didik agar mereka mempunyai kepedulian terhadap lingkungan di sekitarnya. Penanaman kepedulian sosial ini dapat dilakukan dengan live in . Yakni anak didik diajak untuk hidup bermasyarakat yang konkret, melihat dan merasakan sendiri dinamika hidup di masyarakat.

Harapanya agar mereka memiliki perhatian kepada kaum miskin dan marginal. Rasa kepedulian sosial yang sudah tertanam dalam dirinya dapat digunakan sebagai penunjang proses belajar mengajar.

Mengenai pribadi masing-masing anak didik, penanaman sikap dan menumbuhkan kepedulian sosial anak didik sesungguhnya merupakan upaya kita untuk menjadi pendidik yang efektif. Keefektifan ini akan membantu anak didik tumbuh dan berkembang kepribadiaannya. Akhirnya, kepribadian merekapun semakin matang.

(Dimuat Bernas: Senin 13 Oktober 2003)

Sabtu, 20 Februari 2010

Warta

Selembar Dwi Mingguan PLS/24/08/09 Edisi XIV
*** PLuS POS ***
(Nyata, Tangguh, Terpercaya)
SMA PANGUDI LUHUR SEDAYU (0274)7494179


PINTU REDAKSI
Hai apa kabar semua? PLuS POS kembali hadir di hadapan temen-temen semua dan tentunya bapak-ibu guru dan karyawan.
Untuk Edisi pertama dan kedua tahun ajaran ini PLuS POS masih dipegang anak-anak jurnalistik kelas XII. Untuk edisi berikutnya akan dipegang anak-anak jurnalistik utamanya kelas X dan XI.
Edisi berikutnya kami minta dukungan temen-temen untuk mengirimkan sepenggal tulisan untuk PLuS POS, dukungan lain kami mohon temen-temen dapat menyisihkan sedikit uang jajan untuk membantu ongkos cetak PLuS POS.

HARUS TAHU
Lapangan volley (pasir dan rumput) sekolah kita sementara ini hilang, berubah menjadi sebuah bangunan yang cukup megah. Bangunan tersebut rencananya sebagai laboratorium Fisika, menambah laboratorium kimia dan biologi yang sudah ada. Labaoratorium ini untuk mendukung proses belajar mengajar khususnya pelajaran fisika. Semoga laboratorium ini dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Temen-temen udah belajar belum? Mulai Jumat tanggal 11 sampai 17 September sekolah kita mengadakan Ulangan Tengah Semester Ganjil. Ayo buruan kita belajar!!! (Amel)

SIAPA SIH
Temen-temen tentunya udah tau bahwa ada wajah baru di kantor guru SMA kita. Berbeda dengan edisi kemarin, kali ini PLuS POS menampilkan Bapak Paulus Cahyo Eko Wandono, S.T. yang akrab dipanggil Pak Cahyo.
Yups… beliau adalah guru yang mengampu pelajaran TIK. Guru muda kelahiran Yogyakarta, 30 Agustus 1977 ini mengakui kesan pertamanya pada sekolah ini, teduh karena banyak pohon di lingkungan sekolah. Bila ditanya tentang suka duka, sukanya adalah semua warga sekolah baik-baik dan menyenangkan. Sedangkan dukanya adalah kalau ada murid yang ramai saat pelajaran atau yang keluar saat jam pelajaran tanpa izin, membuat jengkel.
Beliau berharap agar kita semua tidak menyia-nyiakan masa depan sehingga kita bisa menjadi orang yang berguna bagi keluarga, orang lain, dan bangsa. Tetep semangat dan sukses selalu, OK?! (Ike & Naomi)

INGET ATAU NGGAK ?
Senin-Selasa 24-25 Agustus kemarin diakreditasi. Bapak ibu guru cukup sibuk dengan kegiatan untuk menyiapkan akreditasi. Semoga hasil yang dicapai dapat maksimal dan sekolah kita semakin maju dan berkembang.
Di depan aula sekolah kita berderet majalah dinding karya kelas X, XI dan XII. Majalah dinding tersebut dibuat dalam rangka menyemarakkan Ulang Tahun Kemerdekaan Negara kita yang ke 64. Semoga melalui lomba madding ini dapat meningkatkan kecintaan kita terhadap budaya tulis menulis. (PLuS POS)

MENGAPA BEGINI BEGITU
Sekolah kita di setiap depan ruangan ada si Biru dan si Kuning. Apakah itu? Tempat sampah dari tong bekas yang dicat biru dan kuning. Tempat sampah organik dan non organik. Kok pengadaan tempat sampah baru sekarang?
Tempat sampah cukup bagus nampaknya sedikit sia-sia. Banyak sampah masih berserakan diberbagai tempat. Oh… mungkin kita belum terbiasa dengan tempat sampah yang ada! He.. …..
Selama bulan puasa ini jam pelajaran dikurangi 5 menit setiap jam pelajaran. Tapi kok kadang jam pergantian sering molor. Temen-temen sering juga setiap ganti pelajaran izin ke belakang molor juga. He…. Enak kali molor ..!! (Windri)

IPTEK
HTML (Hyper Text Markup Language) digunakan untuk membuat dokumen yang bisa diakses melalui web. Keuntungan dari HTML adalah bisa untuk membuat blog, urusan bisnis, untuk iklan, “online” dan lain-lain (praktis)
Kita harus menyesuaikan diri dengan adanya kecanggihan teknologi pada masa kini. Bila kita tidak bisa menyesuaikannya, kapan kita bisa maju? Tapi kita juga harus hati-hati penggunaannya. (Ike-Naomi-Amel)

HUMOR
Kejadian ini saat kami retret di Syalom Ambarawa. Acara pagi itu adalah jalan-jalan pagi. Dengan didampingi oleh seorang bruder, kami jalan-jalan di sekitar rumah retret.
Untuk mengurangi rasa capek, kami ngobrol di sepanjang perjalanan. Tiba-tiba salah satu temen nyeletuk, “Wah baru jalan segini aja kakiku udah pegel-pegel semua.” Coba bayangkan kalau kita setiap hari naik turun gunung sambil membawa beban yang cukup berat?” Temenku yang lain nyeletuk Kalau orang gunung udah terbiasa maka tidak mudah capek. Makanya orang gunung itu biasanya kakinya besar-besar, karena sering berjalan naik turun gunung kayak gini.”
Saat itu bruder menanggapi obrolan kami, sambil tertawa bruder berkata “Lha ini kakiku besar-besar po? Saya kan asli gunung yaitu Boro. Kakiku nyatanya biasa-biasa saja, tho…..!!!” Temenku pun diam sambil tertawa menahan malu!!! Kacian…deh!! (Ike)

Crew:
Amel, Naomi, Ike,
Santa, Windri
Kami Ucapkan

Warta

Wokrshop Jurnalistik Tim Warta Paroki Klepu (imuat Praba Februari I 2010)


Sebagai upaya untuk meningkatkan profesionalisme tulis menulis bagi anggota, Tim Warta Paroki Klepu mengadakan acara Workshop jurnalistik pada hari Kamis-Jumat 26-27/11/2009 di Aula SMP Budi Mulia Minggir. Peserta sekitar 15 orang dari 20 anggota Tim Warta Paroki Klepu.
Materi Pelatihan disampaikan oleh anggota Tim Warta Paroki Klepu yang memiliki beberapa pengalaman dalam bidangnya. Session I Menulis Opini Oleh Ag. Budi Susanto, S.Pd. (Guru yang senang menulis), Sesion II Editing oleh Ign. Adjie R.P. (Mantap Wartawan, Pembimbing Majalah Sekolah dan Editor Majalah), Sesion III Wawancara dan Penulisan Berita oleh C. Binarsih ( Wartawan Bernas Yogya). Tiga materi tersebut disampaikan pada hari pertama.
Sedangkan hari kedua lebih berupa sharing dari para anggota Tim Warta Paroki. Materi tersebut adalah Menentukan Tema oleh Leornadus Budi Setiawan, Menulis Rohani oleh Agung Widodo dan P Agung Santoso, Wawasan Paroki Klepu oleh Y. Sumardi dan Serba-serbi mengelola warta paroki leh Riyan Wahyudi. Semua pemateri pada hari pertama dan hari kedua adalah anggota Tim Warta Paroki Klepu. Tim Warta Paroki Klepu ini tidak terbatas dari para mahasiswa, namun beberapa dari mereka adalah penulis lepas, wartawan, editor majalah, guru, dan profesi lainnya.
Pada kesempatan itu Rm F.X. Murdisusanto, Pr selaku romo Paroki KLepu berkenan hadir dalam acara tersebut. Beliau memberikan penguatan kepada para anggota Tim Warta Paroki. Harapan kedepan agar Tim warta paroki selalu mengadakan pembenahan agar warta paroki betul-betul menjadi pewarta kabar gembira kepada seluruh umat Paroki Klepu.
Workshop ini diadakan juga dalam rangka menyambut ulang tahun Warta Paroki yang pertama tepatnya bulan Januari. Diakhir kegiatan ini ditutup dengan membuat perencanaan kedepan untuk Warta Paroki Klepu. Sebagai bentuk perencana ke depan Warta Paroki Klepu antara lain Penambahan rubrik Kewiraswastaan seperti yang sedang digalakan di Paroki Klepu, Penambahan Rubrik Rohani, Penambahan Rubrik Hiburan atau fiksi.
Perencanaan di tahun 2010, warta Paroki Klepu akan mengadakan lomba penulisan bagi para pembaca, mencetak wartawan-wartawan kecil dan mengadakan kegiatan rutin untuk mengkritisi masalah-masalah actual. Hal ini sebagai upaya untuk mempertajam wawasan para anggota Tim Warta Paroki dalam mengungkapkan ide. Proficiat !!!!!

(Ag. Budi S)

Warta

Selembar Dwi Mingguan PLS/24/08/09 Edisi XIII
*** PLuS POS ***
(Nyata, Tangguh, Terpercaya)
SMA PANGUDI LUHUR SEDAYU (0274)7494179

PINTU REDAKSI
Hai apa kabar semua? PLuS POS comeback nih!! Tentu aja dengan berita-berita yang seru di sekolah kita ini.
Udah pada tahu kan seragam baru yang menambah warna sekolah kita, namun kenapa hanya diberlakukan untuk kelas X ya?
Memperingati hari kemerdekaan, sekolah kita semakin merdeka dengan bertambahnya prestasi yang kita raih, apa saja itu? Lalu siapakah wajah baru yang meramaikan ruang guru di sekolah kita ini? Mau tahu semuanya? Makanya jangan sampai ketinggalan untuk membaca PLuS POS edisi ini. Selamat membaca!!! (Santa)

HARUS TAHU
Sebulan terakhir ini konsentrasi warga SMA PL Sedayu terutama guru-guru dan karyawan sedang terfokus pada suatu hal yang akan menentukan eksistensi setelah sekolah yaitu akreditasi.
Warga SMA PL Sedayu pun rela berlama-lama tinggal di sekolah, untuk mempersiapkan segala sesuatunya agar di saat penilaian dapat berlangsung dengan baik dan mendapat hasil yang memuaskan. Agar kelak sekolah kita ini dapat lebih eksis, berkembang dan lebih bermutu. Good Luck!!! (Amel)

SIAPA SIH
Temen-temen, di tahun ajaran yang baru ini, tentunya kalian semua udah tahu bahwa ada beberapa wajah baru yang menambah deretan staf pengajar di SMA kita. Salah satunya adalah ibu Lisna Indrawati, S.PSi yang mengampu pelajaran BK.
Setelah beberapa waktu ruang BK kita VOCCUM dan kemudian dipegang oleh suster Elisa untuk sementara. Para siswa yang ingin berkonsultasi dapat langsung menemui bu Lisna.
Guru muda kelahiran Purworejo 29 Februari 1984 ini mengakui kesan pertamanya pada sekolah ini menyenangkan, baik situasi, lingkungan maupub siswa-siswinya. Beliau berharap semoga siswa-siswi dapat berkembang secara pribadi maupun mental menjadi pribadi yang mandiri, dewasa dan bertanggungjawab. Sebagai siswa marilah kita bersama-sama mewujudkan harapan berliau!! Okeii… (Santa- Naomi)

INGET ATAU NGGAK ?
Eh temen-temen inget atau nggak? Kemarin tanggal 15 Agustus 2009, sekolah kita telah mengirim beberapa pasukan tontinya yang diwakili kelas X dan kelas XI, untuk mengikuti Lomba Gerak jalan se-Kecamatan Sedayu yang diselenggarakan di Lapangan Argodadi Sedayu Bantul. Mereka dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok putra dan putri.
Akhirnya kerja keras mereka selama beberapa hari latihan, telah membuahkan hasil yang memuaskan yaitu berhasil menggondol 2 buah tropi. Masing-masing mendapat juara pertama.
Proficiat!!! (Naomi)

MENGAPA BEGINI BEGITU
Semua pasti tau apa yang membedakan tahun ajaran sekarang dengan yang kemarin mengenai seragam. Yups..! Kelas X dengan batik pada hari Rabu Kamis cukup membedakan dengan kelas XI dan XII. Kenapa kelas X harus berpakaian batik?
Temen-temen sekolah kita setiap hari Sabtu menerapkan seragam bebas. Namun kadangkala sebagian temen-temen mengartikan lain. Bebas dengan pakaian yang beberapa nampaknya kurang sopan. Bagaimana kalau kita coba berpakaian yang lebih pantas dan sopan?
Sekolah kita tempat belajar cukup nyaman, udara yang belum tercemar polusi dan rindangnya pepohonan yang ada. Hal ini membuat temen-temen betah di sekolah. Semoga
kita betah karena belajar bukan yang lainnya.he….he…. (Windri)

IPTEK
Face Book akhir-akhir ini cukup ngetren. Aka itu Face Book? Tentunya kalian sudah sering mendengar kata itu… Yap… Face Book merupakan sarana menambah teman melalui jaringan internet. Namun banyak juga yang menggunakannya untuk urusan bisnis, karena Face Book tidak hanya booming di kalangan anak muda tetapi segala umur. Wah, kalau gitu jangan sampai ketinggalan tuh!!! (Santa)

HUMOR
Beberapa waktu lalu aku dan temanku membaca Koran. Kami disuruh pak Pur memberitahukan kepada bu Sri kalau ditunggu suaminya di depan sekolah.
Akupun langsung mengetuk pintu, tetapi kebetulan bu Sri juga sedang berjalan menuju pintu, lalu berkata kepada Bu Sri, “Maaf bu, ibu ditunggu oleh suami ibu di depan sekolah!” Dengan agak kaget Bu Sri menjawab, “Lha ini suami saya!” (Sambil tertawa dan menuju suaminya yang tadi berdiri di balik pintu yang tertutup kepadaku).
Setelah itu aku dan temanku langsung meninggalkan ruang guru sambil menahan malu. (Ike)

Crew:

Amel, Naomi, Ike,
Santa, Windri